
9 Jun 2026
Tak banyak yang tahu mengenai gejala, penyebab, dan cara pencegahan Japanese Encephalitis. Padahal Japanese Encephalitis adalah penyakit yang masih menjadi ancaman di Indonesia karena berpotensi menyebabkan komplikasi berat hingga kematian.
Japanese Encephalitis (JE) adalah infeksi virus yang menyerang otak dan sistem saraf yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang terinfeksi virus Japanese Encephalitis dari babi dan burung yang hidup di air.[1]
Penyakit ini masih menjadi perhatian di Indonesia karena dapat menyebabkan komplikasi serius. Meskipun tidak semua penderita mengalami gejala berat, kasus yang berkembang dapat berujung fatal. Tingkat kematian akibat Japanese Encephalitis dapat mencapai 20 – 30%, dan sebagian penyintas atau penderita Japanese Encephalitis yang bertahan hidup berisiko mengalami gangguan saraf jangka panjang.[2]
Di Indonesia, dalam kurun waktu 2014 – 2023, terdapat sebanyak 145 kasus Japanese Encephalitis. Pada 2015, kasus Japanese Encephalitis terjadi di daerah provinsi Bali, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Yogyakarta, Jawa Barat dan Jakarta. Kasus terbanyak dilaporkan terdapat di Provinsi Bali yang memiliki banyak persawahan dan peternakan babi.[3] Kasus Japanese Encephalitis juga sempat terjadi di Pangandaran, Jawa Barat, pada April 2025 dan merenggut nyawa penderitanya.[4]
Gejala Japanese Encephalitis yang Perlu Diwaspadai
Pada tahap awal, gejala Japanese Encephalitis sering kali tidak spesifik karena akan muncul dalam waktu 4-15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi dan mirip penyakit ringan, seperti demam, sakit kepala, mual dan muntah. Namun, dalam beberapa kasus, gejala dapat berkembang menjadi lebih serius terutama pada anak usia 2-10 tahun, seperti: [5]
Demam tinggi.
Napas cepat.
Leher kaku.
Kaku otot.
Gangguan penglihatan.
Linglung.
Sulit berbicara.
Kejang, terutama pada anak-anak.
Lumpuh.
Koma.
Penyebab Japanese Encephalitis dan Cara Penularannya
Penyebab Japanese Encephalitis adalah virus Japanese Encephalitis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi. Virus ini hidup dalam siklus antara nyamuk dan hewan, seperti babi dan burung air. Manusia dapat terinfeksi Japanese Encephalitis ketika digigit oleh nyamuk yang membawa virus tersebut.[6]
Selain itu, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terinfeksi Japanese Encephalitis dikarenakan antara lain[7]:
Daerah subtropis dan tropis.
Tinggal di daerah persawahan atau area lembap.
Musim hujan dengan populasi nyamuk tinggi.
Aktivitas di luar ruangan pada malam hari[8].
Cara Pencegahan Japanese Encephalitis
Hingga saat ini, belum ada obat khusus untuk penyakit Japanese Encephalitis. Oleh karena itu, apabila Anda atau keluarga berencana mengunjungi wilayah dengan risiko Japanese Encephalitis, ada baiknya mempertimbangkan vaksinasi Japanese Encephalitis sebagai langkah pencegahan dan perlindungan.
Vaksin Japanese Encephalitis tersedia di berbagai fasilitas kesehatan, dan Anda dapat berkonsultasi dengan dokter pada layanan kesehatan untuk mengetahui kebutuhan serta waktu yang tepat sebelum bepergian.
Berikut beberapa cara pencegahan agar tidak terinfeksi Japanese Encephalitis, yang menjadi langkah paling penting.
Vaksinasi Japanese Encephalitis
Vaksinasi Japanese Encephalitis merupakan cara paling efektif untuk mencegah infeksi. Vaksin ini direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia terutama untuk anak-anak mulai usia 9 bulan ke atas.[9]
Berikut jadwal pemberian vaksin Japanese Encephalitis:[10]
- Anak-anak: vaksin dosis pertama diberikan saat usia 9 bulan ke atas, kemudian dilanjutkan vaksin booster (kedua) 1–2 tahun setelah dosis pertama atau mengikuti ketentuan wilayah endemis.
- Dewasa/Wisatawan: direkomendasikan cukup diberikan 1 kali dosis, idealnya diberikan sebulan sebelum bepergian ke wilayah endemis.
Menghindari gigitan nyamuk, dengan melakukan beberapa langkah berikut:[11]
- Menggunakan lotion anti-nyamuk.
- Memakai pakaian lengan panjang saat beraktivitas di luar ruangan.
- Menggunakan kelambu saat tidur.
- Membersihkan tempat yang dapat menjadi tempat genangan air.
- Tidak menumpuk barang-barang bekas.
Japanese Encephalitis adalah penyakit serius yang ditularkan melalui gigitan nyamuk dan dapat menyebabkan radang otak yang berbahaya. Dengan mengenali gejala Japanese Encephalitis, memahami penyebabnya, serta melakukan langkah pencegahan yang tepat, risiko penyakit ini dapat diminimalkan.
Yuk, segera konsultasi dengan dokter Anda. Melalui vaksinasi Japanese Encephalitis, kita bisa melindungi diri dan keluarga dari ancaman Japanese Encephalitis.
ID-GEN-2026-05-L08G (06/26)
Referensi
[1] Alodokter, Japanese Encephalitis, terakhir diakses tanggal 12 April 2026
[2] Kemenkes RI, Kemenkes Kenalkan Imunisasi Japanese Encephalitis (JE) untuk Cegah Radang Otak, terakhir diakses tanggal 12 April 2026
[3] IDAI, Japanese Encephalitis, terakhir diakses tanggal 12 Mei 2026
[4] Medcom, 3 Berita Terpopuler Gaya: Bahaya Japanese Encephalitis Hingga Kopi dan Dehidrasi, terakhir diakses tanggal 12 Mei 2026
[5] Alodokter, Japanese Encephalitis, terakhir diakses tanggal 12 April 2026
[6] WHO, Japanese Encephalitis, terakhir diakses tanggal 2 Mei 2026
[7] WHO, Japanese Encephalitis, terakhir diakses tanggal 2 Mei 2026
[8] CDC, Japanese Encephatlitis Vaccines, terakhir diakses tanggal 2 Mei 2026
[9] Kemenkes RI, Kemenkes Kenalkan Imunisasi Japanese Encephalitis (JE) untuk Cegah Radang Otak, terakhir diakses tanggal 12 April 2026
[10] Halodoc, Vaksin JE Lindungi Diri dari Radang Otak, terakhir diakses tanggal 12 Mei 2026
[11] Alodokter, Japanese Encephalitis, terakhir diakses tanggal 12 April 2026
