Wajib Tahu! Kelompok Berisiko Hepatitis B yang Dianjurkan Divaksinasi
Hepatitis B bukan hanya menyerang kelompok berisiko tinggi seperti tenaga medis atau orang yang kerap berbagi penggunaan jarum suntik. Bahkan tanpa disadari, penderita hepatitis B tanpa gejala pun bisa menjadi pembawa virus. Yuk, kenali kelompok yang rentan terinfeksi hepatitis B dan cegah dengan vaksinasi hepatitis B.

Hepatitis B dapat menyerang siapa saja, namun terdapat kelompok tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis B. Menariknya, vaksin hepatitis B bukan hanya untuk mereka yang berisiko tinggi.[1] Hal ini karena pemberian vaksin pada rentang usia tersebut dapat meningkatkan perlindungan hingga 21% dan menurunkan infeksi hepatitis B akut sebesar 24%.[2]
Artinya, vaksinasi pada orang dewasa dapat menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi penyebaran virus, bahkan pada mereka yang tidak menyadari memiliki faktor risiko. Meski demikian, risiko hepatitis B berkaitan erat dengan pola hidup, lingkungan kerja, serta kondisi kesehatan seseorang. Oleh karena itu, penting mengetahui kelompok berisiko hepatitis B agar upaya pencegahan bisa dilakukan sejak dini.
Siapa saja kelompok berisiko hepatitis B? Simak penjelasannya.
Kelompok Pertama: Tenaga Medis
Kelompok pertama yang sangat rentan adalah tenaga medis, seperti dokter, perawat, dan petugas laboratorium. Tenaga medis memang memiliki risiko tinggi tertular hepatitis karena sering berinteraksi dengan darah, cairan tubuh, dan peralatan medis yang berpotensi terkontaminasi, seperti jarum suntik. Penularan dapat terjadi jika tidak sengaja tertusuk jarum bekas pasien yang terinfeksi saat pengambilan darah.[3] Virus hepatitis B, C, dan D menular dengan cepat melalui darah dan cairan tubuh, dengan tingkat penularan yang lebih tinggi dibanding HIV.[4]
Kelompok Kedua: Penggunaan Jarum Suntik atau Alat Pribadi Bersama
Berbagi penggunaan jarum suntik atau alat pribadi seperti pisau cukur, sikat gigi, dan gunting kuku dapat menjadi jalur penularan hepatitis B karena darah atau cairan tubuh yang terinfeksi dapat menempel pada permukaan alat tersebut.
Penggunaan jarum suntik bersama, baik untuk narkoba, perawatan medis tidak steril, maupun tato dan tindik, dapat langsung memasukkan virus ke aliran darah. Untuk mencegah infeksi, selalu gunakan jarum suntik baru dan steril, serta hindari berbagi barang pribadi yang berisiko terkontaminasi darah.[5]
Kelompok Ketiga: Bayi yang Lahir dari Ibu yang Terinfeksi Hepatitis B
Bayi baru lahir berisiko tinggi tertular hepatitis B dari ibu yang terinfeksi, baik melalui persalinan normal maupun caesar, karena virus dapat menular lewat darah dan cairan tubuh. Sering kali ibu tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi, sehingga pemberian vaksin hepatitis B bagi bayi dalam 12 jam pertama setelah lahir menjadi langkah pencegahan mengikuti jadwal vaksin yang direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Kelompok Keempat: Orang yang Belum Divaksinasi
Selain itu, orang yang belum divaksinasi hepatitis B, karena tanpa vaksin, tubuh tidak memiliki perlindungan, sehingga sistem kekebalan tubuh yang lemah membuat infeksi lebih mudah berkembang menjadi kronis dan berkomplikasi. Oleh karena itu, pengawasan dan vaksinasi sangat dianjurkan untuk kelompok ini.[6]
Kelompok Kelima: Orang Dewasa
Vaksin hepatitis B juga direkomendasikan untuk orang dewasa oleh Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia). Hal ini karena infeksi hepatitis B dapat menyerang siapa saja dan sering kali tanpa gejala hingga stadium lanjut. Saat ini, prevalensi hepatitis B di Indonesia termasuk sedang, namun risiko tetap tinggi pada kelompok dewasa. Sebut saja, orang lanjut usia, penderita penyakit komorbid, kelompok berisiko tinggi seperti homoseksual, individu dengan pasangan berganti-ganti, dan pasien HIV. Edukasi yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, memperluas cakupan vaksinasi, dan menurunkan angka kematian akibat hepatitis B.[7]
Penularan Hepatitis B
Hepatitis B merupakan penyakit yang sangat menular dan dapat menyebar melalui kontak darah atau melalui cairan tubuh penderita. Memahami jalur penularannya penting untuk mencegah infeksi dan melindungi diri maupun orang di sekitar. Dalam hal ini, penyakit hepatitis B dapat menular melalui dua jalur utama yaitu transmisi vertikal dan transmisi horizontal.
Transmisi vertikal terjadi ketika seorang ibu yang terinfeksi hepatitis B menularkannya kepada bayi selama proses persalinan. Sementara itu, transmisi horizontal terjadi melalui:[8]
Perilaku seksual yang tidak aman, misalnya bergonta-ganti pasangan, tidak memakai kondom, dan seks sesama jenis.
Berbagi jarum suntik yang tidak steril, contohnya penggunaan narkoba atau pembuatan tato.
Prosedur medis tertentu seperti cuci darah atau dan transfusi darah.
Cegah dengan Vaksin Hepatitis B
Sekarang, kita telah mengetahui kelompok yang berisiko terinfeksi hepatitis B dan cara penularannya. Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Selain gaya hidup sehat dan melakukan tes HBsAG, upaya pencegahan yang efektif adalah vaksinasi.
Pemberian vaksin hepatitis B merupakan langkah proteksi untuk mencegah infeksi virus hepatitis B yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti sirosis atau kanker hati. Vaksin hepatitis B bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi terhadap virus.
Pada bayi, vaksin hepatitis B diberikan sebanyak 3 hingga 4 kali. Dimulai dari dosis pertama segera setelah lahir, dilanjutkan pada usia 1 bulan dan 6 bulan, serta booster di usia 18 bulan. Pada dewasa diberikan sebanyak tiga dosis. Dosis kedua diberikan 1 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga diberikan 5 bulan setelah dosis kedua. Jika diperlukan, dosis booster dapat diberikan 5 tahun setelah dosis ketiga.[9]
Secara umum, vaksin ini aman, meskipun dapat menimbulkan efek samping ringan seperti nyeri di area suntikan atau demam dan reaksi alergi sangat jarang terjadi. Yuk, segera lakukan konsultasi ke dokter untuk mendapatkan perlindungan vaksinasi hepatitis B.
ID-GEN-2025-07-VMQY (08/25)
Referensi
[1] CDC, ACIP Evidence to Recommendations for a Universal Hepatitis B (HepB) Vaccination Strategy in Adults, terakhir diakses pada 20 Juli 2025
[2] CDC, ACIP Evidence to Recommendations for a Universal Hepatitis B (HepB) Vaccination Strategy in Adults, terakhir diakses pada 20 Juli 2025
[3] CDN, Petunjuk Teknis Pemberian Imunisasi Hepatitis B untuk Tenaga Medis, terakhir diakses 14 Agustus 2025
[4] Halodoc, Hepatitis dapat Menular Melalui Jarum Suntik, terakhir diakses pada 20 Juli 2025
[5] Bumame, Hepatitis B Kronis dan Akut: Simak Penyebab, Gejala, dan Cara Pengobatannya!, terakhir diakses pada 13 Agustus 2025
[6] Alodokter, Fakta Seputar Penyebaran Hepatitis B di Indonesia, terakhir diakses pada 13 Agustus 2025
[7] Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, Konsensus Panduan Vaksinasi Hepatitis B pada Populasi Khusus, terakhir diakses pada 13 Agustus 2025
[8] Alodokter, Fakta Seputar Penyebaran Hepatitis B di Indonesia, terakhir diakses pada 29 Juli 2025
[9] Alodokter, Vaksinasi Hepatitis B, Ini Manfaat dan Jadwal Pemberiannya, terakhir diakses 29 Juli 2025
