top of page

Kalventis Edukasi Pentingnya Vaksin Influenza Trivalent bagi Dewasa dan Lansia

  • 5 hari yang lalu
  • 4 menit membaca

 

Jakarta, 4 Mei 2026 – PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya, PT Kalventis Sinergi Farma (Kalventis), berkomitmen memperkuat ketahanan kesehatan nasional dengan menghadirkan vaksin influenza trivalent. Kehadiran vaksin ini sejalan dengan rekomendasi World Health Organization (WHO), untuk mengoptimalkan perlindungan tanpa batas terhadap strain yang terdeteksi masih aktif, yakni virus influenza A (H1N1), influenza A (H3N2), dan influenza B/Victoria. Tiga jenis influenza ini berisiko komplikasi serius, termasuk pada dewasa, lansia, serta individu dengan komorbid, yang berisiko mengalami komplikasi seperti pneumonia, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan lainnya.

 


“Kalbe melalui Kalventis ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa influenza dapat berdampak serius, khususnya pada dewasa dengan penyakit penyerta dan kelompok lansia. Vaksinasi adalah langkah perlindungan yang penting untuk mencegah komplikasi serta menekan risiko rawat inap. Sebagai perusahaan kesehatan, kami berkomitmen untuk memberikan edukasi kesehatan yang relevan bagi masyarakat dan menghadirkan vaksin influenza trivalent yang selaras dengan rekomendasi WHO,” ujar Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma, Vidi Agiorno.

 

Menurut WHO, influenza menjadi ancaman kesehatan global yang signifikan dengan perkiraan 290.000 hingga 650.000 kematian setiap tahunnya. Namun, cakupan vaksinasi influenza dewasa di Indonesia masih tergolong rendah, yakni hanya sekitar 0,5 per 1.000 populasi. Angka tersebut jauh di bawah negara lain, seperti Singapura (90 per 1.000), Jepang (250 per 1.000), dan Korea (311 per 1.000). seiring perkembangan epidemiologi, WHO juga merekomendasikan penggunaan vaksin influenza trivalent (TIV) agar perlindungan lebih relevan terhadap strain virus yang beredar saat ini.

 

Pada populasi dewasa, influenza juga berkontribusi terhadap tingginya angka rawat inap dan penurunan produktivitas. Selain itu, risiko penyakit berat lainnya (komplikasi) diketahui meningkat pada individu lansia serta mereka yang memiliki komorbid. Kondisi ini menunjukkan bahwa influenza perlu dipandang sebagai ancaman kesehatan serius, apalagi influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang menular.

 


“Influenza bukan selesma (common cold). Pada pasien common cold, jarang terjadi deman dan sakit kepala. Sedangkan pada pasien influenza, sering kali demam tinggi secara tiba-tiba yang biasanya berakhir dalam 3—4 hari dan sering kali pasien mengalami sakit kepala. Kemudian, pada kelompok dewasa dan lansia, influenza dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, bahkan kejadian kardiovaskular akut,” tutur Ketua PERALMUNI (Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI.

 

“Vaksinasi influenza tahunan merupakan tindakan pencegahan utama untuk mengurangi kasus kematian dan rawat inap yang disebabkan virus influenza. Sebab pencegahan jauh lebih baik dibandingkan menunggu komplikasi terjadi,” tambahnya.

 

Di sisi lain, para ahli kesehatan global, termasuk WHO, tidak lagi mendeteksi sirkulasi virus B/Yamagata sejak tahun 2020, sehingga mendorong penyesuaian komposisi vaksin. Dalam hal ini, influenza quadrivalent (QIV) menjadi vaksin influenza trivalent (TIV). Perubahan rekomendasi WHO ini mencerminkan dinamika epidemiologi influenza global. Prof. Iris pun menyoroti pentingnya adaptasi terhadap perkembangan ilmiah dalam vaksinasi influenza tersebut.

 

“Transisi dari vaksin quadrivalent ke trivalent merupakan bentuk penyesuaian ilmiah terhadap perkembangan epidemiologi virus influenza global. Ini bukan pengurangan proteksi, melainkan optimalisasi berdasarkan galur (strain) yang saat ini benar-benar bersirkulasi. Efektivitas vaksin lebih ditentukan oleh kesesuaian galur dengan virus yang beredar, bukan semata jumlah galurnya. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap perubahan komposisi vaksin. Hal yang terpenting adalah cakupan vaksinasi terus meningkat,” jelas Prof Iris.

 


“Vaksin influenza sebaiknya dilakukan secara rutin setiap tahun. Hal ini penting karena virus influenza terus mengalami mutasi, sehingga komposisi vaksin juga diperbarui secara berkala. Dengan vaksinasi tahunan, perlindungan terhadap galur virus yang sedang beredar dapat tetap optimal. Ini khususnya penting bagi dewasa dengan faktor risiko dan kelompok lansia, sebab vaksinasi adalah investasi kesehatan jangka panjang yang sangat bernilai,” tambah Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI.

 

Dr. Sukamto juga menyampaikan bahwa peningkatan cakupan vaksinasi influenza perlu didukung oleh pemahaman masyarakat yang lebih baik. Faktanya, banyak masyarakat yang menunda vaksinasi karena menganggap influenza bukan penyakit serius. Padahal, bagi kelompok berisiko, vaksinasi dapat membantu mencegah komplikasi yang serius. Edukasi kesehatan juga harus terus dilakukan agar masyarakat memahami manfaat nyata vaksinasi. Dengan peningkatan kesadaran, perlindungan populasi dapat semakin kuat.

 

Selain rutin dilakukan setiap tahun, vaksin influenza juga sebaiknya dilakukan dua minggu sebelum seseorang bepergian atau traveling ke wilayah yang berisiko seperti negara empat musim. Sebab, aktivitas traveling meningkatkan risiko paparan virus akibat interaksi di area publik. Risiko menjadi lebih tinggi bagi traveller dengan daya tubuh rendah, lansia, maupun yang memiliki komorbid. Vaksinasi pun menjadi solusi sebagai perlindungan tanpa batas.

 

“Kalbe dan Kalventis akan terus memperkuat peran dalam mendukung edukasi kesehatan preventif di Indonesia. Kami percaya bahwa perlindungan kesehatan terbaik dimulai dari kesadaran dan pencegahan sejak dini. Melalui kolaborasi dengan komunitas, tenaga kesehatan, dan organisasi profesi kesehatan, kami ingin memperluas akses masyarakat terhadap informasi kesehatan yang akurat dan terpercaya. Upaya ini sejalan dengan komitmen kami untuk menghadirkan solusi kesehatan yang berdampak bagi masyarakat luas,” tutup Vidi.



Sekilas tentang Kalbe

PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) berdiri sejak tahun 1966 dan merupakan salah satu perusahaan farmasi terbuka paling terintegrasi di Asia Tenggara. Kalbe memiliki empat divisi utama yang menangani portofolio merek yang handal dan beragam; divisi obat resep, divisi produk kesehatan yang menangani obat bebas dan multivitamin, divisi nutrisi; dan divisi distribusi & logistik.

 

Kalbe juga telah mengembangkan ekosistem layanan digital yang bersifat B2B yakni EMOS dan MOSTRANS. EMOS adalah sistem aplikasi order management yang memudahkan saluran distribusi melakukan manajemen stok atau supply chain.  MOSTRANS adalah penyedia solusi transportasi B2B untuk memberikan kemudahan pengelolaan dan efisiensi transportasi.

 

Kalbe kini memiliki lebih dari 40 anak perusahaan dan 22  fasilitas produksi berstandar lokal dan internasional, dan didukung oleh sekitar 16.000 karyawan, yang tersebar di 72 cabang di seluruh Indonesia. Sejak tahun 1991, saham Kalbe tercatat di Bursa Efek Indonesia (IDX:KLBF). Informasi selengkapnya, silakan kunjungi https://www.kalbe.co.id/

Sekilas tentang Kalventis

Sebagai mitra kesehatan yang terpercaya dan berdiri sejak tahun 1950, PT Kalventis Sinergi Farma (“Kalventis”) berkomitmen menjaga keberlanjutan akses terhadap obat-obatan diabetes, gangguan jantung dan pembuluh darah, serta onkologi dan vaksin yang berkualitas. Didukung keandalan karyawan dan fasilitas manufaktur bersertifikat GMP (Good Manufacturing Practice) serta bersertifikat halal, Kalventis siap berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Indonesia agar semua orang dapat menjalani hidup yang optimal.

 

PT Kalventis Sinergi Farma adalah bagian dari PT Kalbe Farma Tbk. Sebelumnya, Kalventis bernama PT Aventis Pharma (“Sanofi Indonesia”).

 

Informasi selengkapnya, silakan kunjungi https://www.kalventis.co.id/


bottom of page